Berbicara persoalan lembaga pendidikan, tentu erat kaitannya dengan yang dikenal dengan nama sekolah. Sebut saja sekolah untuk mempermudah pemahaman. Sekolah yang kita ketahui pada dasarnya adalah bermakna suatu tempat atau wadah dalam kegaitan belajar mengajar. Dengan adanya sekolah, para komponen pendidikan lainnya akan dapat melaksanakan tugasnya masing-masing. Sekolah, sangatlah penting kehadirannya dalam dunia ini sebagai pemopang para manusia dalam mengubah tingkah laku manusia itu menjadi ke arah yang lebih baik lagi.
Guru Kontemporer
Sekolah, dahulunya sekitar abad 90, tentu berbeda dengan sekolah pada abad ke 20. Sekolah abad 90 memegang erat tentang kepribadian manusia yang dididik. Misalnya saja begini, pada dahulu, guru itu tidak segan atau tidak takut untuk menghukum peserta didiknya bilamana dirasa peserta didik itu melakukan suatu kesalahan. Umumnya, para orangtua menerima akan perlakuan yang demikian itu. Sehingga, belum terdengar adanya polemik di masyarakan tentang penilaian guru mengajar di sekolah atau di dalam kelas. Masyarakat terkesan menyerahkan tanggungjawab itu hanya kepada guru. Jadi, pada orangtua tidak begitu membela secara utuh anaknya bilamana mendapat hukuman dari gurunya.
Berbeda dengan era 20-an saat ini, guru itu terkesan lebih berhati-hati dalam kegiatan belajar-mengajarnya di dalam kelas. Mengapa demikian? Tentu banyak faktor yang mempengaruhinya. Mulai dari asap dapurnya yang tidak begitu tebal, atau bisa jadi karena hal lain yang dirasa sifatnya pribadi yang menyebabkan dirinya tidak dapat mengajar dengan panggilan hati.
Banyak teori yang berbicara mengenai mengajar dengan panggilan hati. Namun, sedikit orang yang memaknai hal ini secara utuh. Asap dapur, lagi-lagi menjadi asalan seseorang dalam mendedikasikan dirinya pada sekolah dan peserta didiknya. Mungkin saja karena banyak faktor, dantaranya bisa jadi karena tuntunan masa kini dengan bergelimpangan teknologi dimana-mana, tentu guru itupun berkeinginan untuk mengikuti perkembangan zaman yang tiada henti-hentinya. Dengan demikian, atas dasar tuntuan itu, fokus guru dalam mengajar di kelasnya, sedikit terganggu. Paling tidak, itu hanyalah bayangan alasan mengapa guru itu kurang maksimal dalam mendedikasikan dirinya di sekolah atau di depan kelasnya.
Bila berangan-angan, bagaimana bila saja honorer guru itu di tingkatkan, pasti fokus mereka mengajar di kelas paling tidak lebih terbantu. Fokus mereka mengajar di hadapan kelas akan lebih membaik dibandingkan sebelumnya. Namun, perlu pertimbangan yang mendalam untuk kajian ini. Pemerintah telah melakukan hal yang terbaik untuk para guru, mulai dari aturan yang diberlakukan, larangan, hingga pada honorium guru. Tentu keputusan itupun telah dipertimbangkan secara matang. Bagi guru, tidak perlu lagi berpikir tentang penghasilannya, karena sudah cukup banyak uang negara yang dilimpahkan terhadap pendidikan. Lebih dari separuh uang negara itu dilimpahkan untuk pendidikan. Namun, pendidikan itu tidak hanya berbicara untuk honorium guru, masih sangat banyak untuk komponen lain yang terkait dalam pendidikan. Misalnya saja, buku siswa, bantuan siswa, bantuan sekolah, penyediaan sarana sekolah, dan lain sebagainya. Jadi, perlunya penanaman panggilan hati bagi guru agar dapat mengajar dengan ikhlas pada suatu lembaga pendidikan. Bilamana ikhlas, rezeki itu akan berkah, bukan banyak.
0 Comments
Post a Comment